KH Zainuddin MZ : Menghargai Karya Atau Prestasi Orang Lain

Adalah KH Zainuddin MZ figur da’i berjuta umat yang senantiasa menatap penuh perhatian kepada orang yang mengajak bicara walaupun orang itu masih muda, anak kecil, miskin, lemah. Ia senantiasa menghargai pendapat orang lain. Bahkan memujinya kalau memang pantas untuk dipuji.


Dalam suatu majelis atau kumpul orang banyak KH Zainuddin MZ lebih banyak diam, aktif mendengarkan pendapat orang lain walupun ia sendiri mampu berbicara. Ia sangat menghargai pendapat dan karya orang lain.

v    Pemaaf

Dalam meniti keberhasilan berdakwah KH Zainuddin MZ berangkat dari yang kecil, sederhana, memulai dari pengajian-pengajian rutin, khatib di masjid sampai akhirnya ia menjadi da’i berjuta umat terkondang se Asia Tenggara.

Dari pengalaman berdakwah inilah ia mempunyai prinsip yang sering dinasehatkan kepada orang lain : “Mulailah dari yang kecil, sederhana, tidak ada yang besar tanpa dimulai dari yang kecil”.

Ditengah keberhasilan dakwahnya sebagaimana sekarang ini, KH Zainuddin MZ tidak terlepas dari tantangan dan fitnahan, ibarat pepatah yang sering ia kemukakan dalam ceramah, semakin tinggi sebuah pohon pasti semakin kencang dan keras angin menerpa.

Dalam menghadapi fitnahan baik dilontarkan dari teman-teman seprofesi atau yang lain profesi,  baik yang di Jakarta ataupun yang diluar Jakarta ia tanggapi dengan sifat tenang, diam tanpa mengcounter sebagai bukti ia memaafkan.

Dalam hal-hal yang berkaitan dengan isyu, gosip, fitnah KH Zainuddin MZ mengibaratkan dengan diri kita yang sedang mendapat suara radio. Suara radio dapat dikeraskan, dikecilkan, dibiarkan atau dimatikan. Juga dengan fitnah dapat dibesarkan atau didiamkan.

KH Zainuddin MZ senantiasa mamaafkan kepada orang-orang yang memanfaatkan popularitasnya demi keuntungan pribadi, orang-orang yang menyebarkan fitnah KH Zainuddin MZ, mengkomersilkan ayat dan fitnah-fitnah lain yang melanda keluarganya.

v    Tawadlu’ pada yang lebih tua

Adalah KH Zainuddin MZ yang tidak mau berjalan di depan selama ada orang yang lebih tua lebih-lebih gurunya, tidak mau memulai makan selama belum dimulai oleh orang yang lebih tua jika ada ditempat itu.

Kalaupun terpaksa makan duluan buah-buahan atau makanan misalnya, selalu ia berbagi rasa terhadap orang di dekatnya, bahkan tidak segan-segan ia sendiri yang mengupaskan atau yang mengambilkan makanan itu.

Akhlaq yang demikian adalah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.





Artikel Terkait :






Ceramah Mp 3 :



Related Posts:

Post a Comment