Mengaplikasikan Syukur

 "Hidup kian bermakna saat kita pandai mensyukuri semua yang diberikan Alah pada kita, umat manusia".       


Nikmat dunia adalah ujian. Segala hal yang Allah berikan di dunia ini merupakan sarana untuk menguji siapa yang paling baik perbuatannya di antara kita.

Ilmu yang Allah di berikan pada kita, wajib diamalkan dan disebarluaskkan pada masyarakat banyak. Agar kelak ilmu yang kita miliki membuahkan hasil dan mewujud pada perubahan dan perbaikan peradaban yang hari ini kian massif dan tidak beradab. Banyak orang pintar tetapi tidak memberi kontribusi apa-apa kepada komunitasnya. Yang ada hanyalah kerusakan yang ditimbulkan akibat ilmu dan kemampuan yang dimilikinya. Kufur terhadap ilmu yang Allah berikan adalah tidak mengamalkannya di jalan Allah. Atau berbuat kerusakan bersandar pada ilmu yang dimilikinya. Naudzubillah!

Refleksi syukur itu hendaknya mampu mengeliminasi sinyal-sinyal kekufuran yang terus menerus tumbuh dan berpotensi untuk mendominasi dalam diri setiap insan.  

Refleksi syukur pun bisa ditafsirkan dengan berlomba-lomba melakukan kebaikan.  

Namun bentuk rasa syukur yang terbesar dan terbaik,  adalah dengan beribadah kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Imam Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu 'anha: "Rasulullah pada suatu malam bangun melaksanakan shalat sampai pecah-pecah kaki beliau, kemudian Aisyah mengatakan: "Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan yang demikian itu padahal dosa-dosamu yang telah lewat dan yang akan datang telah diampuni Allah?" Rasulullah menjawab: "Tidakkah boleh aku menjadi hamba yang bersyukur?"

Nah, cara apa lagi yang kita lakukan selain sebagaimana yang dicontohkan Rasul kita? [atw/cha/hidayatullah.com]

Related Posts:

Post a Comment