Di Eropa, Kristen Tidak Laku Dijual

Penyebab utama para misionaris tidak menawarkan ajaran agama mereka kepada bangsa mereka sendiri, karena ajaran itu sudah pernah dicobakan. Dan hasilnya nihil alias nol besar.

Alih-alih menjadi solusi, ajaran Kristen di Eropa malah meninggalkan jejak hitam. Penindasan raja dan gereja kepada ilmuwan dan rakyat, masih kuat melekat di alam bawah sadar masyarakat di sana.

Kelam sekali memang, Anda bisa bayangkan bagaimana gereja diberi kekuasaan oleh raja untuk menghukum mati para ilmuwan. Bukankah Galileo Galilei, Copernicus dan banyak ilmuwan lainnya harus dihukum mati, karena dianggap bertentangan dengan doktrin gereja?


Lagian, apa yang mereka ajarkan tentang agama Kristen, sebenarnya sudah tidak asli lagi. Yang mereka ajarkan justru pemikiran manusia, filsafat dan ajaran sekian ribu sekte yang saling berbeda. Dan orang Eropa sudah bosan dengan semua itu.

Maka kalau di Eropa hari ini mash ada misionaris, penginjil atau pendeta, mereka pun sudah tidak lagi punya harapan bagaimana ajarannya laku di negerinya sendiri.

Maka apa yang Anda saksikan tentang sudah ditinggalkannya agama Kristen di Eropa, adalah hal yang benar. Bahkan sebenarnya bukan sekarang ini saja, sudah sejak lama mereka acuh tak acuh dengan agama mereka sendiri. Mereka pernah mengalami masa yang paling menjengkelkan dari kekuatan gereja di Eropa.

Di Eropa, Kristen Tinggal Simbol

Kalau pun sekarang ini kita masih melihat simbol-simbol agama Kristen di sana, seperti natalan, kayu salib, Sinterklas dan seterusnya, sebenarnya hanya merupakan barang kuno yang sudah tidak lagi diperhitungkan orang.

Makanya, malam natal tidak diisi oleh mreka dengan misa atau kebaktian, tetapi joged semalam suntuk, mabok dan berzina.

Pemurtadan di Indonesia

Kalau di Indonesia kita masih menyaksikan aksi-aksi pemurtadan yang dilakukan oleh para Romo, Pastur, Pendeta dan para penginjil lainnya, sebenarnya tidak bisa langsung dibilang bahwa hal itu dilakukan oleh Belanda atau Eropa.

Coba saja perhatikan, yang melakukan kristenisasi di Indonesia sekarang ini justru orang-orang Indonesia sendiri. Kalau pun ada bule-nya, hanya beberapa saja. Para bule itu di negeri asalnya mungkin malah tidak populer. Setidak populer ajaran yang dibawanya.

Bayangkan, ajaran yang sudah tidak 'laku' di Eropa, ternyata masih laku untuk didagangkan di sini. Ini yang agak mengherankan dari karakteristik bangsa ini.

Sampai ada seorang kawan yang bilang, bahwa hal itu hanya latah dari bangsa kita. Misalnya, bangsa kita ini terbiasa mengimpor apa saja dari luar negeri, termasuk barang bekas, limbah, atau juga sampah. Betapa agama Kristen di Eropa sudah ditinggalkan, ternyata bangsa kita lagi asyik-asyiknya melakukan kemurtadan massal.

Entah benar atau tidak anggapan seperti itu. Tapi yang jelas memang di Eropa agama Kristen sudah sejak lama ditinggalkan.

Dan yang perlu digaris-bawahi, rupanya negara yang mengalami proses pemurtadan besar-besaran di dunia ini hanya bisa dihitung dengan jari. Dan yang paling parah kondisinya memang Indonesia.

Agaknya, para misionaris itu tahu persis bahwa iman bangsa kita masih terlalu mudah untuk luntur. Pokoknya, apapun ajaran, asalkan disebarkan dengan gigih tanpa mengenal lelah, pasti banyak pengikutnya.

Coba Anda bayangkan, jumlah aliran sesat di negeri kita ini mencapai 250 buah, hanya dalam kurun waktu 1980 s/d 2006 tahun. Kita tidak bisa habis pikir, sudah ketahuan sesat, kok masih ada saja yang ikut. Pengikutnya banyak militan pula.

Padahal bukan hanya ulama yang menyebutnya sesat, bahkan tukang ojek yang lagi mangkal di perempatan jalan sekalipun tahu bahwa kelompok itu memang menyempal dari aqidah Islam.

Mungkin di antara penyebabnya karena bangsa kita ini sangat dangkal akidahnya, akibat lemahnya proses pembinaan agama. Kita harus sadari bahwa pendidikan Agama Islam di sekolah dan bangku kuliah seringkali hanya sekedar formalitas, tidak pernah digarap dengan serius, semua dikerjakan dengan setengah hati.

Syarat iman takwa yang selalu disebut-sebut sebagai syarat seorang pejabat, lebih sering berupa pemakaian kostum dan hadir dalam peringatan hari besar agama. Sementara korupsi, penindasan, sogok, dan praktek permalingan uang negara tetap jalan terus.

Faktor lainnya yang menyebabkan para misionaris dunia serius ingin mengkristenkan Indonesia adalah karena negeri ini punya jumlah bahan baku dalam jumlah yang cukup besar. Bayangkan, ada 200 juta manusia beragama Islam tinggal di satu negara, dengan iman yang rapuh, jumlah ulamanya sedikit, pemerintahnya acuh tak acuh, dan sebagian besar hidup didera kemiskinan yang abadi.

Wah, ini memang lahan yang paling subur yang selalu dicari-cari para misionaris. Harga iman di dada setara dengan sekotak mie instan. Murah sekali.

Cukup bikin sekolah Kristen yang banyak, maka akan ada antrian panjang putera puteri bangsa ini yang ingin duduk belajar di dalamnya. Masak sekolah Kristen berisi 90% murid yang beragama Islam? Mau diapakan murid-murid itu kalau bukan mau dimurtadkan?

Lalu ke mana para guru muslim? Ke mana para konglomerat muslim? Mengapa mereka tidak melindungi anak-anak dari bersekolah yang dibiayai gereja? Mengapa MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa HARAM menyekolahkan anak di sekolah milik Kristen, atau yang berafiliasi ke agama lain?

Kami dan Anda sepakat untuk heran.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ditulis oleh : Ahmad Sarwat, Lc

Related Posts:

Post a Comment