Mulia Karena Lidah Yang Terjaga

Pada kesempatan yang mulia ini, saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada hadirin jamaah Jumat sekalian, untuk senantiasa meningkatkan kwalitas iman dan taqwa kita kepada Allah SWT dengan terus menerus berupaya menambah ketaatan kita di dalam melakanakan segala perintah2-Nya, serta menjauhi segala larangan2-Nya dengan penuh kesadaran, kesabaran, keikhlasan hati, serta mensyukuri berbagai nikmat dan karunia yang diberikan oleh Allah SWT.
Semoga kita termasuk kedalam golongan orang2 yang bahagia hidupnya, baik itu di dunia maupun di akhirat kelak. Amin.

Dalam kesempatan siang hari ini, akan saya bacakan firman Allah Ta’ala yang tercantum didalam Al Qur’anul karim :

"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan, melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (Qaf: 18).

Sesungguhnya lisan merupakan salah satu nikmat Allah yang amat besar dan salah satu ciptaan Allah yang paling menakjubkan. Bentuknya yang kecil, namun perannya sangat besar dalam ketaatan maupun dalam kemaksiatan. Bahkan kekufuran dan keimanan .....tidak bisa diketahui dengan jelas kecuali dengan persaksian lisan, padahal keduanya merupakan puncak dari ketaatan dan kemaksiatan.

Hadirin Sidang Jum’at yang Terhormat

Lisan adalah raja atas semua anggota tubuh. Semua tunduk dan patuh kepadanya. Jika ia lurus, niscaya semua anggota tubuhpun ikut lurus. Jika ia bengkok, maka bengkoklah semua anggota tubuhpun.
Dalam hal ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

"Apabila anak cucu Adam masuk waktu pagi hari, maka seluruh anggota badan tunduk kepada lisan, seraya berkata, 'Bertakwalah kepada Allah dalam menjaga hak-hak kami, karena kami mengikuti-mu, apabila kamu lurus, maka kami pun lurus, dan apabila kamu bengkok, maka kami pun bengkok'." (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad).

Seorang manusia bisa masuk surga disebabkan karena lisannya. Apabila benar lisannya, maka dia akan mendapatkan pahala, dan sebaliknya bila salah mempergunakannya maka dia akan mendapatkan dosa. Lisan manusia bisa mewujudkan berupa dzikir, tasbih, tahlil, membaca al-Qur`an, ucapan amar ma'ruf nahi munkar, berbuat baik kepada sesama manusia, dan mengajak mereka kepada kebaikan.
Lisan adalah salah satu nikmat dari Allah Swt, jika ia dipergunakan oleh hambanya untuk kebaikan, sebagai petunjuk dan keshalihan, maka dia akan mendapatkan pahala.

Hadirin Sidang Jum’at yang Terhormat..

Lisan memang senang sekali mengembara ke tempat-tempat yang tidak mempunyai tujuan, lahannya yang luas tiada terbatas dan tiada bertepi. Ia memiliki peran yang sangat besar di dalam lahan kebajikan, dan juga di di lahan keburukan.
Maka barangsiapa yang mengumbar lisannya dengan bebas dan tidak mau mengendalikannya, maka setan akan menggiring-nya ke dalam segala sesuatu yang dia ucapkan. Lalu menyeretnya ke jurang kehancuran, dan selanjutnya jatuh ke dalam kebinasaan.
Tidak seorang pun yang dapat selamat dari tergelincirnya lisan kecuali orang-orang yang mau mengendalikannya dengan tali kekang syariat, sehingga lisannya tidak mengucapkan sesuatu, kecuali yang memberi manfaat di dunia dan akhirat.
Ketika Aisyah ra berkata kepada baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Cukuplah bagi Anda bahwa Shafiyah itu orangnya begini, begini dan begini" Maksudnya tubuh Shafiyah itu pendek. Maka rasulullah SAW langsung menegurnya, apa sabda beliau kepada Aisyah….???, Wahai Aisyah..!! "Engkau telah mengucapkan suatu perkataan yang apabila dicampur dengan air laut niscaya dia akan merubahnya." (HR. Abu Dawud).

Kaum Muslimin yang Berbahagia

Kata-kata yang manis memang terbukti bisa menghipnotis manusia. Ia bisa menghanyutkan manusia dalam buaiannya.
Pendapat ini bertitik tolak pada fitrah manusia yang selalu ingin dihargai atau bahkan dipuji. Tutur kata yang manis juga bisa memotivasi orang lain untuk berbuat baik dan meninggalkan perbuatan mungkar.
Sebuah kritikan yang tajam, namun dibungkus dengan tutur kata yang halus lebih bisa diterima oleh orang yang dikritik.

Dan sebaliknya, menyampaikan kebenaran secara vulgar dan kasar kepada umat manusia, terkadang akan berakibat sebaliknya.
Namun rasul bersabda: “Qulil haqqo walau kana murron”, Sampaikanlah kebenaran itu walau terasa pahit”.
Mengucapkan kebenaran itu memang besar resikonya, begitu juga mencegah kemungkaran banyak akibatnya, akan tetapi, itu harus kita lakukan, itu harus sampaikan, setidak-tidaknya untuk mencegah kemungkaran itu terjadi.
Rasulullah SAW dalam sebuah hadist yang lain bersabda :

“Iyakum wal kadziba fainal kadziba yahdi ilal fudzuri wal fudzuru illa naar”

“Hati-hatilah kamu dengan lisan yang gemar berdusta, sebab sesungguhnya dusta bisa membawa kepada perbuatan durjana, dan perbuatan durjana menggiring orang kepada neraka”.
Mula-mula dari ucapan, kemudian melangkah kepada perbuatan, dan dari perbuatan itulah yang akan jadi penilaian Allah SWT, jikalau perbuatan itu baik, maka kita melangkah kedalam surga, tetapi jikalau tidak, maka perbuatan kita jugalah yang akan menjerumuskan kita kedalam panasnya api neraka.
Oleh karena itu, berlindung kita kepada Allah, jangan sampai kita diberikan lidah yang gemar berdusta, bergunjing serta memfitnah.

Ma’asyiral muslimin rahima kumullah,

Semoga di bulan suci Ramadhan yang penuh barokah, maghfiroh serta ampunan ini, yang sebentar lagi akan segera meninggalkan kita, Allah Swt senantiasa memberikan petunjuknya kepada kita semua, untuk melaksanakan segala perintahNya dan melaksanakan kebaikan-kebaikan sesuai dengan syariat. Dan Allah menjadikan hari-hari kita, menjadi hari-hari yang penuh dengan amal shalih yang akan membawa kita kepada kebahagiaan, ketenangan dan keselamatan.

Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan hidayah pada segala urusan kita, khususnya dalam menjaga lisan kita dan memberikan petunjuk kepada kita semua dalam menapaki jalanNya yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Allah berikan nikmat kepada mereka, yaitu jalannya para nabi, orang-orang yang jujur, dan para syuhada, serta orang-orang yang shalih, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.

Related Posts:

Post a Comment