Lima Pelajaran Berharga


Hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas Diri-Ku, sekaligus mengharamkan kezaliman itu terjadi di antara kalian. Karena itu, janganlah kalian saling menzalimi.

Hamba-Ku, setiap diri kalian itu tersesat, kecuali orang yang Aku beri hidayah. Karena itu, mintalah hidayah kepada-Ku, pasti Aku beri kalian hidayah.

Hamba-Ku, setiap diri kalian itu lapar, kecuali orang yang Aku beri makan. Karena itu, mintalah makan kepada-Ku, pasti Aku beri kalian makan.


Hamba-Ku, setiap diri kalian itu telanjang, kecuali orang yang Aku beri pakaian. Karena itu, mintalah pakaian kepada-Ku, pasti Aku beri kalian pakaian.


Hamba-Ku, kalian selalu berbuat kesalahan siang dan malam, sementara Aku akan mengampuni seluruh dosa. Karena itu, mintalah ampunan kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.

Hamba-Ku, kalian tidak akan pernah menyentuh madarat-Ku hingga kalian bisa memadaratkan-Ku, dan kalian pun tidak akan pernah bisa menyentuh manfaat-Ku hingga kalian bisa memberi Aku manfaat.

Hamba-Ku, andai generasi pertama dan terakhir dari kalian, baik dari kalangan manusia ataupun jin, berhimpun dalam kalbu orang yang paling takwa di antara kalian, hal itu tak akan menambah sedikit pun keagungan bagi Kerajaan-Ku.

Hamba-Ku, andai generasi pertama dan terakhir di antara kalian, baik dari kalangan manusia maupun jin, berhimpun dalam kalbu orang yang paling jahat di antara kalian, hal itu pun tak akan mengurangi sedikitpun keagungan Kerajaan-Ku.

Hamba-Ku, andai generasi pertama dan terakhir dari kalian, baik dari kalangan manusia ataupun jin, berdiri dalam satu mimbar, lalu mereka semuanya meminta kepada-Ku, pasti akan Kuberi setiap orang dari mereka tanpa sedikitpun mengurangi milik-Ku, kecuali seperti ujung jarum saat dimasukkan ke dalam lautan.

Hamba-Ku, sesungguhnya amal-amal kalian akan Aku hitung, lalu Aku sempurnakan balasannya untuk kalian. Karena itu, siapa saja yang menemukan di dalamnya kebaikan, hendaklah dia memuji Allah. Sebaliknya, siapa saja yang mendapati selain itu, hendaklah dia tidak mencela siapa pun, kecuali dirinya sendiri." Demikian firman Allah SWT dalam sebuah hadits qudsi, sebagaimana penuturan Abu Dzarr ra dari sabda Baginda Nabi Muhammad SAW. (HR Muslim).

Terkait dengan hadits di atas, Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim, menyebutkan antara lain beberapa hal berikut:

Pertama, Allah adalah Mahasuci dan Mahatinggi; mustahil bagi-Nya berlaku zalim. Karena itu, tidak selayaknya manusia, sebagai makhluk-Nya, saling menzalimi satu sama lain.

Kedua, sebelum Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW, manusia hakikatnya dalam keadaan tersesat, dan mereka akan tetap ada dalam kesesatan jika tidak mengikuti beliau. Dari sini dapat dipahami, bahwa orang yang mendapat petunjuk adalah yang memang diberi hidayah oleh Allah SWT. Allah-lah Pemilik hidayah, bukan yang lain. Karena itu, siapa saja yang Allah kehendaki, niscaya dia memperoleh hidayah-Nya.

Ketiga, begitu luasnya karunia Allah SWT sehingga jika setiap manusia Dia beri karunia maka itu tak akan mengurangi karunia-Nya sedikitpun. Dengan kata lain, karunia Allah SWT itu seperti lautan yang amat luas, sementara yang diberikan kepada seluruh manusia ini hanyalah seperti ujung jarum, alias sangat sedikit. Perumpamaan ini, menurut para ulama, untuk lebih mendekatkan pemahaman kepada manusia.

Keempat, kewajiban manusia untuk selalu memohon ampunan kepada Allah SWT karena setiap waktu mereka sesungguhnya selalu berbuat dosa dan kesalahan.
Selebihnya, tentu apa saja yang kita lakukan, baik ataupun buruk, hasil dan akibatnya adalah untuk diri kita sendiri; tidak akan pernah menambah ataupun mengurangi keagungan Kerajaan Allah SWT.

Dari beberapa poin di atas, ada beberapa 'ibrah yang bisa kita petik :

Pertama: jika Allah SWT, Pemilik Kerajaan Langit dan Bumi ini saja, tidak pernah berlaku zalim terhadap siapapun, tentu betapa lancang dan kurang-ajarnya manusia yang berlaku zalim terhadap sesamanya.

Kedua: harus disadari bahwa manusia manapun pada dasarnya berada dalam kesesatan selama tidak mengikuti jalan yang ditempuh Baginda Rasulullah SAW.

Ketiga: Nikmat Allah SWT amatlah luas, tetapi yang Dia berikan kepada manusia di dunia ini sebetulnya tidak ada artinya. Kenikmatan yang jauh lebih besar dan abadi hanya akan didapat manusia saat mereka masuk ke dalam surga-Nya.

Keempat: tak selayaknya manusia merasa suci sehingga enggan bertobat dan memohon ampunan kepada Allah SWT, karena sesungguhnya setiap saat manusia berbuat dosa dan maksiat kepada-Nya.

Kelima: konsekuensi amal perbuatan kita akan kembali kepada kita sendiri, baik atau buruk, di dunia ataupun akhirat; mau tak mau kita harus siap menanggungnya. Wamâ tawfîqi illâ billâh. []

Related Posts:

Post a Comment