Hiburan Hati Bagi Yang Diuji

“Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan, di antara mereka ada yang sholih dan sebagian yang lain tidaklah demikian. Dan Kami uji mereka dengan yang baik-baik (nikmat) dan yang buruk-buruk (bencana) agar supaya mereka kembali (kepada kebenaran)” (QS. Al-A’rof: 168)

Pembagian kelompok manusia

Di antara manusia ada yang mendholimi dirinya, dan di antara mereka ada yang pertengahan, dan yang lain yang selalu berlomba-lomba dalam kebaikan.


Kelompok pertama, adalah kelompok orang-orang dholim, orang yang tidak menempatkan sesuatu sesuai dengan haqnya. Orang yang tidak beriman adalah masuk kedalam kelompok ini, hidupnya penuh dengan lumuran dosa-dosa. Mereka ada yang menyembah patung gundul, kayu hutan, batu-batu, dan benda-benda ciptaan Allah lainnya. Padahal semua bentuk peribadatan itu mutlak hanyalah untuk Allah. Maka kedoliman terbesar yang dilakukan oleh umat manusia adalah syirik, sebab syirik menjadikan benda-benda dan makhluk sebagai sesuatu yang diibadahi.

Sebagaimana Allah berfirman: “Sesungguhnya syirik adalah kedholiman yang besar” (QS Luqman: 13)


Kelompok kedua, Muqtashid yaitu mengerjakan amalannya hanya sebatas yang wajib-wajib saja, serta terjatuh pada yang haram-haram. Yang penting dalam kelompok ini menggugurkan kewajiban dan enggan menambah keutamaan-keutamaan. Mereka beramal sholih, kadang juga beramal buruk. Dan urusannya terserah Allah, jika Allah menghendaki maka ia diberi petunjuk, diampuni dan dimasukkan kedalam surga, dan jika Allah tidak menghendaki maka tidak mendapatkan ampunan dan balasannya adalah neraka.

Kelompok ketiga, adalah yang berlomba-lomba dalam kebaikan. Kelompok ini adalah golongan orang-orang yang selalu kita pinta dalam setiap sholat, golongan orang-orang yang diberi nikmat dunia maupun di akhirat, yaitu golongan pengikut para nabi, sahabat, shodiqin dan sholihin.

Hidup adalah Ujian

Hidup ini tidak lepas dari ujian dan cobaan. Bahkan keduanya merupakan sunnatullah dalam kehidupan manusia. Manusia akan selalu diuji dalam segala sesuatu, dalam hal yang disenangi maupun hal yang dibenci.

Selama hayat masih di kandung badan, selama jantung masih berdetak dan darah masih mengalir, demikian pula selama nafas masih berhembus, adalah sebuah kemestian jika cobaan, rintangan, musibah demi musibah, silih berganti mendatangi kita, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah Swt;

"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (Al-Hadid: 22)

“Tiap-tiap jiwa akan merasakan mati. Maka kami akan mengujimu dengan keburukan dan
kebaikan sebagai cobaan. Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan” (QS Al-Anbiya’:35)

Tentang ayat di atas Ibnu Abbas berkata: “Kami akan mengujimu dengan kesulitan maupun kesenangan, kesehatan maupun penyakit, kekayaan ataupun kemelaratan, halal maupun haram, ketaatan maupun kemaksiyatan, perintah maupun larangan petunjuk maupun kesesatan, siapa yang sebenar-benarnya bertaqwa”, dalam riwayat lain; kesenangan dan kesusahan di sela-sela kehidupan ini merupakan ujian.

Ibnu Jarir berkata: “Kami menguji mereka dengan kemudahan dalam mendapatkan kehidupan dan kelapangan rejeki. Inilah yang dimaksud kebaikan-kebaikan (al-hasanat). Sedangkan yang buruk-buruk (as-sayyi’at) adalah kesempitan hidup, kesulitan demi kesulitan, musibah dan sedikitnya harta, agar mereka kembali kepada Allah dan bertaubat dari dosa dan maksiyat yang mereka lakukan.

Dan kebanyakan umat manusia tidak lulus dalam menghadapi ujian hidupnya. Banyak dari mereka yang berputus asa, tertekan hidupnya, stress, gila bahkan nekad bunuh diri. Padahal jika sedikit saja dari mereka mau menggunakan akal & pikirannya, tentulah mereka menyadari bahwa hakekat daripada ujian yang Allah berikan adalah sebagai wahana untuk menaikkan kualitas & derajat dirinya. Jika hidup tanpa ujian niscaya manusia pasti akan sombong, uzub, riya, takabur, berbangga diri, bakhil, keras kepala, serta kufur.

Keadaan manusia yang tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah Swt dan tidak bisa bersabar dalam menghadapi cobaan serta musibah merupakan indikasi imannya tipis cemeng. Dan lebih parahnya lagi keadaan manusia yang ketika mendapat kenikmatan dan kesehatan tidak mau beriman & tidak bersyukur dan manakala ketika mendapat musibah justru malah syirik kepada Allah Swt. Di saat badan lagi sehat enggan untuk beribadah, ketika giliran ditimpa sakit, ditimpa musibah malah datang mencari bantuan kepada paranormal dan jin.


Hikmah dan faedah adanya ujian

Cobaan merupakan sunnatullah yang telah ditetapkan berdasarkan rahmat dan hikmah-Nya. Sesungguhnya Allah tidak menetapkan sesuatu baik hal tersebut merupan taqdir kaunyah maupun syar’i, melainkan di dalamnya terkandung kebaikan dan kasih sayang bagi hamba-hambaNya. Di balik semua taqdir yang Allah tetapkan kepada kita semua, tentu terkandung hikmah yang besar, yang tidak bisa dinalar oleh akal manusia.

Ibnu Qoyyim berkata: Andaikan kita bisa menggali hikmah di balik setiap kejadian dan ketentuan dalam ciptaan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah yang bisa kita petik. Namun akal ini amat terbatas, pengetahuan kita terlalu minim, serta ilmu semua makhluk akan sia-sia belaka untuk mencurahkan kemampuannya jika dibanding dengan ilmunya Allah Swt. Sebagaimana sia-sianya sinar lampu dibanding dengan sinar matahari. Sebagaimana jika telah terbit Matahari kemanakah cahaya bintang?

Seorang muslim meyakini bahwa seorang muslim pasti mendapat ujian, sebagaimana seorang siswa sekolah pasti juga ujian; Sebagaimana Allah berfirman;
”Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al -‘Ankabut: 1-3)

Rasulullah bersabda: “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, niscaya Allah akan menyegerakan hukuman baginya di dunia dan jika Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya niscaya Allah akan mengakhirkan hukuman atas dosa-dosanya sehingga Allah akan menyempurnakan hukuman baginya di akhirat kelak.” (HR. At-Tirmidzi).

Dengan sabar, keadaan iman akan semakin kokoh. Tiada satupun keadaan yang berbolak-balik kecuali dituntut konsekuensi. Konsekuensi senang adalah bersyukur, konsekuensi kesusahan adalah sabar. Jika seseorang mengaku beriman, keadaannya harus demikian, sebagaimana yang disifatkan nabi;

“Sungguh menakjubkan urusan mukmin, karena semua urusannya adalah kebaikan. Dan hal ini tidak terjadi kecuali pada diri seorang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan maka dia bersyukur maka demikian itu adalah kebaikan baginya. Jika mendapatkan kesusahan maka dia bersabar dan demikian itu merupakan kebaikan baginya” (HR. Muslim)

Banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa musibah, ujian, kesulitan, penyakit dan kawaan-kawannya merupakan hal yang lazim menyertai kehidupan umat manusia. Tujuannya adalah agar yang diuji mewujudkan peribadatan hanya kepada Allah Swt semata.

“Dan sungguh kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira bagi mereka yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata: Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan dan rahmat dari Robb mereka, dan mereka itulah orang yang mendapatkan petunjuk” (QS.2:155-156-157)

Di antara faidah penyakit dan musibah-musibah atau bencana ialah mengembalikan hamba yang tadinya jauh dan lupa dari mengingat Allah menjadi ingat dan kembali kepada-Nya. Keadaan ini menjadikan dia berhenti dari hobby dosa yang biasa dia lakukan. Yang terbiasa asyik berendam di lumpur kemaksiyatan, terjerat kebid’ahan dan kubangan hawa nafsu, sibuk melulu dengan urusan dunia lupa dengan Robbnya, akan menjadi sadar dan bertaubat kembali kepada Allah Swt.

Apa rahasia sebenarnya di balik cobaan itu? Apakah Allah ta'ala hendak berbuat dzalim kepada hamba-Nya atau menyakitinya? Sesungguhnya tidaklah demikian. Maka bergembiralah, karena musibah seberat apapun adalah sebagai bukti bahwa Allah menghendaki kebaikan untuk diri-diri kita, baik itu di dunia maupun di akhirat, sebagaimana yang Rasulullah sabdakan:

“Barangsiapa dikehendaki oleh Allah suatu kebaikan bagi dirinya, niscaya Allah akan menimpakan baginya cobaan.” (HR. Al-Bukhari)

Rosulullah mengajarkan do’a jika kita mendapat ujian; “Sesungguhnya kita milik Allah dan hanya kepada Allah kita akan kembali. Ya Allah, berilah pahala atas musibah yang menimpaku dan gantilah untukku dengan yang lebih baik dengannya.” (HR. Muslim)

Oleh karena itu dengan cobaan hidup manusia menyadari kelemahan, kehinaan, dan ketidakmampuan di hadapan Allah Swt. Sehingga ia selalu kembali dan berserah diri kepada-Nya.

Allah berfirman: “Sesungguhnya kami telah mengutus rosul-rosul kepada umat-umat sebelummu, kemudian kami siksa mereka dengan menimpakan kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon kepada Allah dan tunduk patuh” (QS. Al-An’am: 42)

Ibnu Jarir berkata: ujian yang ditimpakan kepada mereka berupa kemiskinan dan kesempitan dalam penghidupan. Sedangkan (Ad-Dhorro’) ujian kepada mereka berupa penyakit dan cacat tubuh. Dengan kondisi seperti itu seharusnya membuat mereka selalu tunduk kepada Allah dan hanya mencintai-Nya ta’at dan pasrah kepada-Nya dan tidak kepada selain-Nya”

Kita tentu pernah merasakan yang namanya sakit. Maka semua ujian ini sebagai sebab dihapuskannya dosa dan kesalahan yang pernah kita lakukan, baik dilakukan dengan hati, dengan pendengaran, penglihatan, ucapan, dan seluruh anggota tubuh. Atau cobaan ini semua adalah sebagai teguran dan sekaligus hukuman agar kelak di akhirat pelakunya tidak dibalas lagi dengan siksaan, sehingga berjumpa dengan Allah dalam keadaan bersih dan selamat.

Rosulullah bersabda; “tidaklah seorang muslim ditimpa musibah maupun penyakit melainkan Allah akan menggugurkan dosa-dosanya karenanya sebagaimana pohon yang menggugurkan daun-daun”
(HR. Bukhori-Muslim)

Dari Sa’id Al-Khudry, berkata: “ada seorang laki-laki datang bertanya kepada rosulullah; “penyakit-penykit menimpa kami, lantas apa yang kami peroleh karenanya?” Beliau bersabda;”pengampunan dosa” lalu Ubay berkata; “sekalipun penyakit itu ringan?” beliau menjawab; “sekalipun hanya tertusuk duri dan yang lebih kecil lagi” (HR. Ahmad)
Di antara faedah cobaan dan ujian hidup adalah akan dituliskannya pahala kebajikan dan diangkatnya derajat. Jika dia bersabar. Rosulullah bersabda;

Tidaklah seorang hamba ditimpa musibah lalu bersabar dan berdo’a; Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.
Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah ini dan berikan padaku ganti yang lebih baik, melainkan Allah memberikan pahala dalam musibah itu dan akan menggantikannya dengan yang lebih baik baginya” (HR. Muslim)

Rosulullah bersabda; “Tidaklah seorang muslim yang tertusuk duri atau yang lebih ringan dari itu kecuali ditetapkan dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan” (HR. Muslim)

Allah berfirman: “Wahai anak Adam, jika engkau sabar dan mencari keridho-an pada musibah yang pertama maka Aku tidak meridhoi pahalamu melainkan Surga” (HR. Ibnu Majah)

“Surga itu dikelilingi dengan sesuatu yang dibenci dan neraka itu dikelilingi dengan sesuatu yang disukai (berbagai syahwat)” (HR. Bukhori-Muslim)

Dari Atho’ berkata kepada Ibnu Abbas: ada seorang wanita yang kena penyakit ayan, dia meminta didoakan nabi agar sembuh, kemudian nabi bersabda kepadanya: “jika kamu bersabar maka bagimu surga. Dan jika kamu mau berdoa, berdoalah kepada Allah agar disembuhkan” Wanita itu berkata: “aku bersabar, tapi aibku tersingkap, maka do’akanlah kepada Allah agar auratku tidak tersingkap. Maka beliaupun berdo’a untuk wanita itu”. (HR. Bukhori-Muslim)

Do’a khotimah

Sebagai penutup dari khutbah siang ini, saya bacakan ungkapan dari
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, beliau berkata: “musibah dan bencana yang diterima dengan ikhlas karena Allah, lebih baik bagimu daripada nikmat-nikmat yang membuatmu lupa mengingat- Nya” [Syah

Semoga keadaan dan suasana yang silih berganti menerpa dalam kehidupan yang kita alami, yaitu berupa kesenangan maupun kesusahan, mampu menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang tetap tegar menghadapinya dan semuanya bisa menghantarkan kita untuk mendapatkan rohmat dari Allah Swt dan memasuki kedalam Surga-Nya.

-----------------------------------------------------------------------------------

Related Posts:

Post a Comment