Diabetesi Rawan Gangguan Mata

Banyak orang yang masih menganggap remeh kesehatan indera penglihatan. Padahal layaknya pemeriksaan tubuh atau gigi yang dilakukan secara teratur, kunjungan ke dokter mata perlu dilakukan untuk memastikan mata sehat dan pandangan normal. Terutama para diabetesi yaitu penderita diabetes, perlu lebih sering memeriksakan matanya.

Pemeriksaan mata setiap tahun memberi kesempatan untuk dokter mata mengidentifikasi dan mengevaluasi perubahan yang dapat mempengaruhi mata.  Pemeriksaan mata yang teratur dan proaktif dapat mendeteksi gejala-gejala awal terhadap ganggguan seperti glukoma, katarak, degenerasi makular dan masalah kesehatan lain seperti tekananan darah tinggi dan diabetes.
Seperti diketahui, seiring dengan pertambahan umur maka gangguan penglihatan akan semakin banyak. Glukoma banyak diderita oleh orang diata
Terbitkan Entri
s usia 40 tahun dan merupakan salah satu penyebab kebutaan terbanyak di Amerika Serikat.

Menurut American Academy of Ophthalmology, sekitar 20,5 juta warga Amerika berusia 40 tahun ke atas mengalami gangguan katarak yaitu selaput putih di sekitar lensa, menghalangi masuknya cahaya yang diperlukan untuk melihat.



Optometri dari Aurora Health Center di Amerika Serikat, Dr. James Hansen memaparkan, katarak memiliki dampak yang kecil pada awalnya. Namun, seiring dengan perkembangannya, maka selaput putih itu akan lebih banyak menutupi lensa.

"Gejala-gejalanya pandangan yang buram, pandangan ganda pada satu mata, sulitnya membedakan warna atau pandangan tampak kuning serta semakin sensitif terhadap cahaya dan merasa silau," ujarnya seperti dilansir htrnews.com, baru-baru ini.

Ketika katarak semakin mengganggu kegiatan sehari-hari, maka dapat dilakukan tindakan operasi. Orang lanjut usia tanpa diabetes juga seringkali mengalami gangguan katarak, namun orang dengan diabetes memiliki risiko 60% lebih tinggi mengalaminya. Pada diabetesi juga cenderung mengalami katarak pada usia yang lebih muda serta perkembangan yang lebih cepat.

Untuk membantu dengan katarak ringan, terang Hansen, orang bisa menggunakan kacamata tabir surya lebih banyak dan menggunakan lensa yang mengontrol cahaya pada kacamata mereka. Ketika katarak semakin banyak mempengaruhi pandangan, dokter biasanya mengganti lensa mata dengan lensa khusus transplantasi.

Pada orang dengan diabetes, retinopati dapat semakin parah setelah pengangkatan lensa dan glukoma bisa mulai berkembang. Diabetic retinophaty adalah ungkapan umum untuk gangguan retina yang disebabkan oleh diabetes.


Orang dengan diabetes sekitar 40 persen lebih tinggi mengalami glukoma dibandingkan orang tanpa diabetes. Semakin lama orang mengidap diabetes, maka kemungkinan gngguan glukoma semakin besar. 

Kini pengobatan glukoma dapat dilakukan dengan berbagai cara. "Sebagian dapat menggunakan obat untuk mengurangi tekanan pada mata, sementara sebagian lagi melibatkan tindakan operasi," ujar Hansen.

Hal itu sangat penting terutama bagi orang dengan penyakit kronis seperti diabetes, guna melindungi panda
ngan mereka dengan menggunakan kacamata UVB-Blocking ketika berada di luar ruangan dan menghindari rokok.

Untuk memahami gangguan mata, setiap orang harus mengontrol masalah kesehatan serta penyakit kronis yang diderita, termasuk mengikuti rencana pengobatan diabetes.

"Jangan khawatir, pemeriksaan mata biasa tidak akan menyakitkan dan sangat penting untuk mengetahui kondisi kesehatan mata. Terutama bagi orang berusia lanjut dan yang menghadai kondisi penyakit kronis seperti diabetes," pungkasnya. (rin)  


Sumber : Republika Newsroom

Artikel Terkait :







Related Posts:

Post a Comment